Tentang Histerektomi (8): Pemulihan Fisik

Setelah pulang dari Rumah Sakit, saya memastikan bahwa saya mengerjakan semua PR dari dokter. Saya tetap minum obat penghilang sakit jenis parasetamol (kalau di Indonesia salah satu nama dagangnya Panadol). Dokter, perawat, dan orang-orang di sekitar saya cukup takjub melihat saya hanya butuh parasetamol untuk menghilangkan sakit, bukan obat penghilang sakit kelas berat seperti golongan narkotika. Mereka bilang saya perempuan tahan banting, tahan sakit. Padahal ya tidak juga.......kalau memang tidak sakit banget, ngapain mesti pakai yang kelas berat? Lagipula, saya sensitif sekali pada obat golongan narkotika. Bisa pusing-mual-muntah, sampai berdiri saja tidak bisa. Ini pernah terjadi sungguhan! Saya sampai tidak bisa bangun seharian.

Ilustrasi oleh: Aan P. Nirwana (IG: apnirwana)
Saya mengamati betul tubuh saya, menghitung hari sampai saya bisa buang air besar (BAB). Ini penting sekali. Bila hingga hari ke-3 saya belum juga bisa BAB, saya harus melakukan intervensi dengan minum larutan serat hingga obat. Kalau sampai hari ke-5 (kalau tidak salah ya) belum juga BAB, harus ke dokter. Untungnya saya sudah bisa BAB dalam waktu kurang dari 3 hari, meski tentu saja luka di perut dan bagian dalam perut bawah terasa sakit ketika mengejan. Tidak parah, tapi ya sakit. Perut juga terasa sakit kalau saya batuk atau bersin.

Dokter menyarankan saya sering jalan-jalan sekeliling rumah, untuk menguatkan otot saya sekaligus melancarkan peredaran darah. Mengurangi resiko terbentuknya gumpalan darah di pembuluh darah yang sangat berbahaya. Selain itu, saya juga diminta untuk terus memonitor tekanan darah saya 2x sehari. Tidak boleh terlalu sering karena bisa memengaruhi tingkat stres, apalagi kalau hasilnya tinggi. Cukup 2x sehari, minum obat penurun tekanan darah secara konsisten, dan istirahat.

Selama 2 minggu pertama setelah operasi, keluarga, teman, dan murid-murid beserta keluarganya bergantian menyediakan makan malam untuk saya dan suami. Setiap pukul 5:30 sore, salah satu dari mereka datang membawakan makanan ke apartemen kami. Adik ipar saya bahkan ikut membantu menjaga saya di hari pertama di rumah ketika suami saya sudah harus masuk kerja. Dia membawa pekerjaannya ke apartemen saya dan bekerja dari situ. Ketika jam makan siang dia memastikan makanan sudah tersedia untuk saya dan mengingatkan saya untuk makan. Harus saya akui, obat paling manjur buat saya untuk melalui semua ini adalah cinta kasih dan dukungan orang-orang di sekeliling saya.

Minggu kedua setelah operasi saya pergi ke Klinik ObGyn dekat rumah saya untuk kontrol ke dokter. Berhubung saya belum boleh mengemudi, saya diantar Ibu mertua. Pada pertemuan ini dokter memeriksa kondisi luka operasi dan kesehatan saya secara umum. Beliau mengatakan saya dalam kondisi baik, dan proses pemulihan berjalan sesuai harapan. Beliau takjub saya tidak pernah menggunakan obat penghilang sakit jenis narkotika (rupanya di sini saya ini sejenis orang sakti!). Beliau juga membacakan hasil analisa patologi saya: rahim saya positif adenomyosis dan fibroid. Jadi keputusan saya angkat rahim ini sudah tepat. Beliau juga menunjukkan foto-foto organ dalam saya yang beliau ambil ketika operasi. Beliau minta maaf karena beliau lupa mengambil foto rahim saya, tapi saya bisa melihat organ lain seperti lambung, usus, bahkan jantung. Mungkin untuk sebagian orang foto seperti ini bikin ngeri, tapi buat saya ini sangat menarik! Di koleksi foto tersebut terdapat pula foto ujung vagina saya yang dijahit rapat dengan benang jahit berwarna hijau/biru. Saya disarankan untuk terus melanjutkan PR saya hingga kontrol saya berikutnya di minggu ke-5 atau ke-6.

Fakta bahwa benang jahitan luka saya berwarna biru menjadi bahan guyonan keluarga. Ketika  saya cerita ke kakak saya di Indonesia bahwa benang jahitnya berwarna biru, kakak saya spontan nyanyi lagu "Benang Biru" yang dipopulerkan penyanyi dangdut kenamaan almarhum Meggi Z. Kami memang boleh dibilang penggemar Meggi Z. Ini salah satu cara kami untuk tertawa menghadapi situasi yang menyedihkan. Efektif loh!

Minggu ketiga, saya sudah bisa berjalan keliling kompleks apartemen. Tentu saja setelah itu saya pusing karena terlalu memforsir diri. Tapi sungguh mengagumkan bagaimana tubuh saya pulih begitu cepatnya setelah operasi.

Di pertengahan minggu keempat, saya bersiap untuk kembali bekerja. Semula saya ragu: bisakah saya mengemudi? Dalam panduan yang diberikan Rumah Sakit tertulis bahwa saya bisa mulai mengemudi pada minggu ketiga. Indikatornya adalah kapanpun saya dapat menginjak pedal rem dengan keras (dalam situasi rem mendadak) tanpa ragu dan tanpa kesakitan. Sudah bisakah saya?

Saya melakukan pengukuran kekuatan injakan kaki saya di piano. Saya mencoba main lagu di piano yang memerlukan pedal damper (di sebelah kanan, menggunakan kaki kanan seperti kalau mengemudi). Saya coba tekanan ringan, sedang hingga berat. Saya main selama beberapa hari hingga saya yakin tidak ada rasa sakit sama sekali ketika saya menginjak pedal. Hitung-hitung pemanasan sebelum mengemudi. Satu hal yang saya sadari, ternyata main piano itu butuh banyak sekali energi! Awal-awal main piano setelah operasi (sekitar minggu ke-2), baru main satu halaman saja sudah ngos-ngosan. Padahal biasanya saya latihan piano selama 45 menit - 1 jam setiap hari. Kalau lagi rajin bisa lebih dari itu. Lha ini? Baru satu menit saja sudah teler! Tapi syukurlah, seriring dengan berjalannya waktu dan latihan fisik pelan-pelan, kekuatan saya mulai kembali.

Dua hari sebelum saya kembali bekerja, saya didampingi suami mulai berlatih mengemudi. Saya di belakang setir, suami di kursi penumpang depan. Saya mengemudi ke rumah mertua yang jaraknya cukup dekat. Semula saya khawatir bahwa insting dan keterampilan mengemudi saya akan menurun setelah tidak mengemudi selama hampir satu bulan. Tapi ternyata saya bisa mengemudi seperti sebelumnya, tanpa rasa sakit sama sekali! Horeeee!!!

Ketika saya kembali bekerja, saya harus memikirkan banyak hal. Pertama, saya tidak boleh membawa beban berat. Sebagai guru piano keliling, saya selalu membawa backpack berisi semua keperluan mengajar seperti buku-buku musik terkait, koleksi sticker untuk murid, alat-alat tulis, dompet, telepon genggam, berbagai jenis permainan (permainan kartu, istilah musik, dadu), peraga teknik (mulai dari kain handuk kecil sampai bola pingpong), stabilo mini warna-warni, tas makeup kecil, buku cek, obat-obatan standar, botol minuman hingga payung kecil. Tentunya ini terlalu berat buat saya!

Saya segera menyiapkan tas kerja biasa dan mengisinya dengan peralatan yang paling saya butuhkan, yaitu alat tulis, dompet, obat standar, telepon genggam, sticker dan stabilo. Untuk sementara saya tidak akan mengajak murid melakukan permainan. Peraga teknik bisa saya pinjam dari murid, toh mereka di rumah dan punya hal-hal standar macam handuk kecil dan bola. Botol minuman dan payung saya tinggal di mobil. Kalau mendung tebal setelah saya tiba, saya baru bawa payung di tas. Saya pastikan ada charger telepon genggam di mobil. Jangan sampai telepon genggam kehabisan baterai!

Selanjutnya saya memikirkan soal busana. Sejak operasi saya merasa bagian perut saya membesar. Saya sempat panik, mengira bahwa saya mendadak mengalami kenaikan berat badan ekstrim karena kurang bergerak selama sebulan. Namun ternyata tidak demikian. Perut saya masih membengkak karena ada luka di dalamnya. Celana jeans saya sudah jelas tidak muat. Celana kain saya, yang biasanya saya peniti di sisi kanan/kirinya karena agak kebesaran, tidak muat juga meski penitinya dilepas. Baru muat kalau retlsetingnya dalam posisi terbuka! Akhirnya celana-celana ini masuk lemari semua, sementara segala macam rok batik, baju terusan dan sejenisnya dikerahkan. Alhasil, saya berangkat mengajar sudah kayak orang mau kondangan.

Berapa lamakah bengkaknya perut ini? Seingat saya, saya pakai rok selama sekitar satu hingga dua bulan. Transisinya pun pelan-pelan: sesekali celana, seseali rok. Setelah itu celana sudah bisa muat kembali meski masih agak ketat. Saat tulisan ini dibuat (sekitar 10 bulan setelah operasi) celana jeans dan celana kain sudah terasa lebih longgar kembali. Belum perlu dipeniti sih kanan kirinya, tapi sudah tidak seketat ketika awal-awal memakai celana kain setelah operasi.

Ketika bekerja, saya juga harus memastikan untuk bergerak pelan-pelan. Saya sengaja berangkat lebih awal untuk memberi saya waktu lebih untuk berjalan lambat menuju mobil dan dari mobil ke rumah murid. Mengajar juga saya pelan-pelan, tidak bicara terlalu cepat mengingat saya sendiri masih anemia (kekurangan darah) setelah operasi. Tim Dokter tidak memberikan transfusi untuk saya ketika itu, karena meskipun anemik saya belum memerlukan transfusi (kadar hemoglobin belum di bawah 7). Mereka hanya meresepkan pil zat besi untuk membantu tubuh saya memulihkan diri secara alami. Dengan terhentinya pendarahan saya, tentunya tubuh saya punya kesempatan untuk memproduksi darah merah tanpa harus kehilangan stok.

Bicara soal pendarahan, apakah saya masih mengalami pendarahan? Selama minggu pertama setelah operasi saya mengalami pendarahan sangat ringan. Saya bahkan tidak memerlukan pembalut, hanya panty liner saja. (untuk pembaca laki-laki, boleh tanya mbah Google soal perbedaan panty liner dan pembalut kalau kurang paham). Setelah itu, pendarahan berangsur-angsur berhenti, sampai akhirnya behenti total. Pengamatan pendarahan adalah salah satu PR saya dari Rumah Sakit. Kalau sampai pendarahan berlanjut, menjadi berat, vagina mengeluarkan cairan berwarna aneh atau mengeluarkan bau tidak sedap, saya harus segera menghubungi dokter.

Pada minggu kelima, saya kembali kontrol ke dokter. Kali ini dokter juga melakukan pemeriksaan dalam untuk melihat bagaiman proses penyembuhan jahitan di ujung vagina. Ketika rahim saya (termasuk leher rahim/serviks) diangkat, ujung dalam vagina yang merupakan batas antara vagina dan serviks dijahit. Selesai pemeriksaan, dokter menyampaikan kabar sangat baik!

Beliau menyatakan luka jahitan saya sudah tertutup total, jahitan dan benangnya sudah tidak nampak yang berarti benangnya sudah luruh tanpa saya sadari. Beliau benar-benar terkesan bahwa saya bisa sembuh secepat ini; pasien beliau lainnya dengan kondisi yang sama memerlukan setidaknya delapan minggu untuk sembuh seperti saya! Karena luka sudah menutup sempurna, saya sudah diperbolehkan untuk melakukan hubungan suami istri, tentunya dengan hati-hati. Selain itu, saya tidak perlu lagi kontrol ke dokter untuk minggu kedelapan, bahkan saya hanya beliau sarankan untuk menemui beliau setahun lagi untuk pemeriksaan kewanitaan tahunan. Puji Tuhan! Tuhan sungguh baik!

Saya pulang dari dokter dengan perasaan yang sangat ringan. Hari itu saya rayakan dengan pergi ke Denver Christmas Craft Fair alias bazar hasil kerajinan untuk Natal bersama salah satu orangtua murid yang sudah menjadi teman baik saya. Selain belanja hadiah Natal, saya juga memanjakan diri dengan beberapa barang lucu berbentuk kucing. Salah satunya bisa dilihat di foto: talenan berbahan Corian berbentuk kucing. Selain sebagai talenan, kucing ini bisa berfungsi sebagai hiasan rumah. Dari cara saya memajangnya, sudah kelihatan apa fungsi kucing ini di rumah!


Talenan Kucing Cantik dari Denver Christmas Craft Fair








Comments

Popular Posts