Tentang Histerektomi (5): Persiapan Menjelang Operasi

Minggu Sebelum Operasi
Seminggu sebelum operasi saya masih tetap mengajar dengan jadwal normal. Murid-murid sudah saya beritahu tentang operasi dan jadwal cuti saya sejak dua minggu sebelumnya, dan pada masa itu beberapa dari mereka menanyakan apakah mereka dapat membawakan makan malam untuk saya selama saya sakit. Saya, yang waktu itu belum begitu paham budaya Amerika yang ini, hanya bisa menjanjikan akan mengontak mereka dalam beberapa hari ke depan untuk informasi lebih lanjut.

Ilustrasi oleh: Aan P. Nirwana (IG: apnirwana)
Saat itulah saya belajar bahwa di Amerika, kalau ada seseorang yang sakit/operasi atau baru saja mengalami musibah/masa-masa sulit (kematian anggota keluarga, dsb.), maka orang-orang terdekatnya (keluarga, tetangga, teman kerja, dsb.) akan bergantian membawakan makanan (umumnya makan malam) selama orang tersebut berada pada masa pemulihan. Tujuannya sederhana, untuk meringankan beban orang yang sakit/mengalami musibah dan keluarganya.

Ibu Mertua saya juga menanyakan apakah ada murid-murid saya yang ingin membawakan makanan. Beliau menyatakan bahwa beliau bersedia menjadi koordinator hantaran makan malam ini. Sayapun mengiyakan. Saya tinggal di Amerika, jadi ya saya harus menghargai budaya ini dan memberikan kesempatan pada orang-orang terdekat untuk menunjukkan kasih dan perhatian mereka pada saya, meski saya pribadi maunya tidak sampai merepotkan orang-orang.

Beliau segera mengambil komputer dan membuat akun di sebuah website khusus koordinasi hantaran makanan, Take Them A Meal . Demi menjaga kerahasiaan kontak murid-murid saya (ya, di Amerika sini kita tidak dapat seenaknya memberikan informasi seseorang ke orang lain tanpa persetujuan yang punya nomor/email. Apalagi kalau hubungan kita dengan mereka sifatnya profesional.), saya tidak memberikan alamat email mereka kepada Ibu Mertua, tapi saya pribadi yang akan mengontak mereka semua mengenai rencana ini. Apabila mereka berminat untuk membawakan makan malam untuk saya dan suami, mereka dapat mengontak Ibu Mertua saya secara pribadi untuk mendapatkan link ke akun beliau di website tersebut. Di sana mereka akan melihat hari apa yang masih kosong dari jadwal yang tersedia yang sesuai dengan jadwal mereka, kemudian mengisinya dengan nama mereka, nomor telepon/email, dan jenis makanan yang akan dibawa. Di email saya itu tercantum nomor telepon dan alamat email Ibu Mertua saya.


Sehari Sebelum Operasi
Selasa, 26 Oktober 2017. Hari itu adalah hari resmi saya memulai cuti. Meski demikian, sehari sebelumnya (Senin, 25 Oktober 2017) saya terpaksa membatalkan les murid-murid saya karena hari Minggunya (24 Oktober 2017) saya pendarahan hebat. Saya memilih untuk istirahat hari Senin supaya kondisi saya tetap fit menjelang operasi.

Saya sengaja cuti hari ini karena sehari sebelum operasi saya harus melakukan prosedur yang disebut bowel cleansing alias pembersihan saluran pencernaan. Tujuan prosedur ini adalah untuk mengosongkan saluran pencernaan, terutama usus halus dan usus besar, sehingga organ-organ ini "kempes" dan memberikan ruang kerja yang lebih luas bagi dokter. Selain itu, usus besar yang kosong akan menurunkan resiko infeksi bakteri usus besar ke organ sekitarnya apabila ketika operasi terjadi luka pada usus besar.

Sejak pukul 00:00 Selasa dini hari, saya sudah tidak boleh mengonsumsi makanan padat. "Makanan" yang boleh saya konsumsi hanyalah yang berupa cairan jernih, seperti kaldu, teh, jus apel, minuman olahraga (isotonik, semacam Gatorade), dan sejenisnya. Makanan paling padat yang boleh saya makan adalah jelly/agar-agar, itupun harus jernih tanpa tambahan buah, nata de coco atau sejenisnya. Intinya, saya tidak boleh mengonsumsi makanan yang akan menghasilkan ampas/kotoran padat di saluran pencernaan. Obat padat diperbolehkan sesuai petunjuk dan izin dokter.

Pagi hari saya diinstruksikan untuk minum obat pencahar Dulcolax empat butir sekaligus. Sekitar pukul 10 pagi saya diminta untuk minum semacam larutan garam satu botol. Saya yang tidak biasa minum sebanyak itu dalam sekali minum langsung merasa kelempoken kalau kata orang Jawa. Perut penuh cairan. Kemudian saya menunggu.

Tak lama kemudian perut saya mulas. Selanjutnya, sepanjang hari saya ngendon di toilet. Benar-benar dahsyat!

Untuk menjaga supaya saya tidak dehidrasi karena pembersihan ini, saya diwajibkan banyak minum sepanjang hari, dan yang direkomendasikan adalah minuman olah raga yang akan mengganti cairan dan garam-garam mineral di tubuh lebih cepat daripada air biasa. Suami saya sudah menyiapkan dua botol raksasa di kulkas. Baiklah. Siap-siap mabok cairan lagi ini!

Saya bersyukur bahwa ketika saya melalui prosedur ini sambil SMS ketawa-ketiwi dengan suami, tentu dilengkapi dengan emoji poop yang terkenal itu.

Sore hari, saya harus melanjutkan proses ini dengan menggunakan obat jenis enema, yaitu obat yang dimasukkan melalui dubur. Pembersihan dilakukan dua arah, sepertinya, dari atas dan dari bawah. Jadi acara ngendon di toilet masih berlanjut!


Malam Menjelang Operasi
Ketika malam tiba, perasaan saya mulai tidak karuan. Inilah malam terakhir saya memiliki rahim. Ada rasa sedih, rasa takut, rasa kecewa dan segudang rasa-rasa negatif lainnya yang sudah tidak bisa saya ungkapkan lagi dengan kata-kata.

Meski perasaan hancur, saya masih harus melakukan satu prosedur lagi, yaitu mandi dengan sabun khusus dari Rumah Sakit sebelum saya tidur. Sabun ini keras, dan hanya boleh digunakan dari leher ke bawah, tidak boleh mengenai wajah. Cara penggunaannya pun sangat spesifik. Saya harus mandi biasa dengan sabun biasa, untuk kemudian dilanjutkan dengan sabun ini. Sabun berbentuk cair, yang harus dituangkan ke waslap untuk digosokkan ke seluruh tubuh (kecuali wajah), terutama bagian yang akan dioperasi.

Ketika mandi inilah perasaan saya memuncak. Saya sudah tidak sanggup menangis, maka yang saya lakukan adalah menyanyi. Saya menyanyikan sebuah lagu pujian yang berjudul  King of My Heart, yang baru saja diajarkan di Gereja. Lagu ini intinya menyatakan bahwa Tuhanlah segalanya, Dialah yang menjadi perlindungan kita, kekuatan kita, sumber hidup kita, Raja di hati kita. Dia baik dan tidak akan meninggalkan kita. Bagi yang ingin mendengarkan lagunya, bisa klik tautan ini

Let the King of my heart (Biar Sang Raja hatiku)
Be the mountain where I run (Menjadi gunung ke mana aku berlari)
The fountain I drink from (Sumber air yang kuminum)
Oh-oh, He is my song (Dialah lagu pujianku)
 

Let the King of my heart (Biar Sang Raja hatiku)
Be the shadow where I hide (Menjadi tempat perteduhanku)
The ransom for my life (Tebusan bagi hidupku)
Oh-oh, He is my song (Dialah lagu pujianku)


(reff)

Let the King of my heart (Biar Sang Raja hatiku)
Be the wind inside my sails (Menjadi angin yang menghembus layarku)
The anchor in the waves (Jangkarku di tengah gelombang)
Oh-oh, He is my song (Dialah lagu pujianku)
 

Let the King of my heart (Biar Sang Raja hatiku)
Be the fire inside my veins (Menjadi api di dalam nadiku)
The echo of my days (Gema hari-hariku)
Oh he is my song (Dialah lagu pujianku)


Reff:
You are good, good, oh-ohh (Engkau baik!)
You are good, good, oh-ohh
You are good, good, oh-ohh
You are good, good, oh-ohh

You're never gonna let (Engkau tidak akan pernah membiarkan aku jatuh)
Never gonna let me down
You're never gonna let
Never gonna let me down
You're never gonna let
Never gonna let me down
You're never gonna let
Never gonna

Catatan: "let (someone) down" juga bisa berarti mengecewakan, atau gagal dalam menopang

(Mohon maaf atas terjemahan yang ala kadarnya........)

Berhubung baru diajarkan di Gereja, yang saya bisa nyanyikan dengan lengkap hanya "You are good" dan "You're never gonna let me down". Tapi saya tidak peduli. Tuhan tahu hati saya, bahwa saat itu saya hanya bisa mengekspresikan bahwa saya tetap percaya, di tengah semua ini, DIA TETAP BAIK. Dialah batu karang yang kokoh, ketika yang bisa saya lakukan hanyalah tertelungkup dalam tangis di atasnya.

Dalam setiap usapan waslap, saya bisikkan "YOU ARE GOOD!"

Setelah mandi dan berganti pakaian bersih, saya bersiap untuk tidur. Saya sungguh tidak yakin saya bisa tidur malam itu. Bagaimana mau tidur, lha wong besoknya bakal kehilangan rahim?

Ketika saya masuk kamar, ternyata suami saya telah mengganti seprai dan sarung bantal di tempat tidur kami, sesuai dengan instruksi dari Rumah Sakit. Mereka menyarankan bahwa setelah saya mandi dengan sabun khusus, saya sebaiknya tidur di atas seprai baru yang bersih, dan dijauhkan dari benda-benda yang sekiranya memiliki deposit bakteri yang tinggi. Maka boneka-boneka kesayangan saya, yang biasanya menemani saya tidur, sudah diungsikan ke dalam lemari oleh suami.

Saya berbaring pelan-pelan, dan suami saya berbaring di sebelah saya. Dia membelai rambut saya dan menggenggam tangan saya. Saya sudah tidak bisa berkata-kata selain mengulang refrain lagu di atas dengan berbisik.

Atas kasih karunia Tuhan, kami akhirnya tertidur sambil masih saling berpegangan tangan.








Comments

Popular Posts